Translate

Kamis, 17 Mei 2012

Makalah Aswaja sebagai Manhjul Fikr


Definisi Aswaja

Dari segi bahasa, Ahlussunnah berarti penganut Sunnah Nabi, sedangkan Ahlul Jama’ah berarti penganut kepercayaan jama’ah para sahabat Nabi. Karena itu, kaum “Ahlussunnah wal Jama’ah” (ahl al-sunnah wa al-jamâ’ah) adalah kaum yang menganut kepercayaan yang dianut oleh Nabi Muhammad Saw. dan para sahabatnya. Kepercayaan Nabi dan sahabat-sahabatnya itu telah termaktub dalam al-Qur’an dan sunnah Nabi secara terpencar-pencar, yang kemudian dikumpulkan dan dirumuskan dengan rapi oleh seorang ulama besar, yaitu Syeikh Abu al-Hasan al-Asy’ari (lahir di Basrah tahun 260 H dan wafat di kota yang sama pada tahun 324 H dalam usia 64 tahun).
Menurut Dr. Jalal Muhammad Musa dalam karyanya Nasy’ah al-Asy’âriyyah wa Tathawwurihâ, istilah Ahlussunnah wal Jama’ah (Aswaja) mengandung dua konotasi, ‘âmm (umum/global) dan khâshsh (spesifik). Dalam makna ‘âmm, Ahlussunnah wal Jama’ah adalah pembanding Syi’ah, termasuk Mu’tazilah dan kelompok lainnya, sedangkan makna khâshsh-nya adalah kelompok Asy’ariyah (pengikut mazhab Imam Abu al-Hasan al-Asy’ari) dalam pemikiran kalam.

Dr. Ahmad ‘Abd Allah At-Thayyar dan Dr. Mubarak Hasan Husayn dari Universitas Al-Azhar mengatakan bahwa Ahlussunnah wal Jama’ah adalah orang-orang yang mendapat petunjuk Allah Swt., dan mengikuti sunnah Rasul, serta mengamalkan ajaran yang terdapat dalam al-Qur’an dan sunnah secara praktik dan menggunakannya sebagai manhaj (jalan pikiran) dan tingkah laku dalam kehidupan sehari-hari.

Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah dia, dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah. (QS. al-Hasyr: 7).

Dengan arti seperti di atas, apa yang masuk dalam kelompok Ahlussunnah wal Jama’ah, pertama-tama adalah para sahabat Nabi, para tabi’in dan tabiit-tabi’in, serta semua orang yang mengikuti jalan Nabi Muhammad Saw. sampai hari kiamat kelak.

Al-Ustadz Abu al-Faidl ibn al-Syaikh ‘Abd al-Syakur al-Sanori dalam karyanya kitab al-Kawâkib al-Lammâ’ah fî Tahqîq al-Musammâ bi ahl al-Sunnah wa al-Jamâ’ah’ menyebut Ahlussunnah wal Jama’ah sebagai kelompok atau golongan yang senantiasa setia mengikuti sunnah Nabi Saw., dan petunjuk para sahabatnya dalam akidah, amaliah fisik (fiqh) dan akhlak batin (tashawwuf). Kelompok itu meliputi ulama kalam (mutakallimûn), ahli fikih (fuqahâ) dan ahli hadits (muhadditsûn) serta ulama tashawuf (shûfiyyah). Jadi, pengertian Ahlussunnah wal Jama’ah menurut ‘urf khâshsh (adat kebisaaan) adalah kelompok muhadditsin, shufiyah, Asy’ariyah dan Maturidiyah. Pengikut mereka inilah yang kemudian juga dapat disebut Ahlussunnah wal Jama’ah, dan selainnya tidak, dalam konteks ‘urf khâshsh tadi. Adapun menurut pengertian ‘âmm Ahlussunnah wal Jama’ah adalah kelompok atau golongan yang senantiasa setia melaksanakan Sunnah Nabi Saw. dan petunjuk para sahabatnya. Dengan kata lain, substansi Ahlussunnah wal Jama’ah adalah mereka yang memurnikan Sunnah, sedangkan lawannya adalah ahli bid’ah (ahl al-bid’ah).

Ahmad Amin dalam Zhuhr al-Islâm, juga menjelaskan bahwa Sunnah dalam istilah Ahl al-Sunnah berarti hadits. Oleh karena itu, berbeda dengan kaum Mu’tazilah, Ahlussunnah percaya terhadap hadits-hadits sahih, tanpa harus memilih dan menginterpretasikannya. Adapun Jamâ’ah, dalam pandangan al-Mahbubi, adalah umumnya/mayoritas umat Islam (‘âmmah al-muslimîn) serta jumlah besar dan khalayak ramai (al-jamâ’ah al-katsîr wa al-sawâd al-a’zham).

Secara lebih terperinci, al-Baghdadi menegaskan bahwa Ahlussunnah wal Jama’ah terdiri dari 8 (delapan) kelompok besar, yaitu: mutakallimin, fuqaha, ahli hadis, ahli bahasa, ahli qira’at, sufi atau zahid, mujahid, dan masyarakat awam yang berdiri di bawah panji-panji Ahlussunnah wal Jama’ah.

Menurut Harun Nasution term Ahlussunnah wal Jamaah timbul sebagai reaksi terhadap faham-faham golongan mu’tazilah yang tidak begitu berpegang pada Sunnah atau tradisi karena meragukan keotentikan Sunnah. Selain itu Mu’tazilah bukan paham yang populer dikalangan rakyat biasa yang terbiasa dengan pemikiran yang sederhana. Karena persoalan itu muncullah term Ahlussunnah wal Jama’ah yang berarti golongan yang berpegang teguh pada Sunnah (tradisi) dan merupahan faham mayoritas ummat.

Jika ditelusuri secara teoritis, definisi dari istilah Sunni/Aswaja akan sulit didapatkan secara pasti dan konsensus. Hal ini salah satunya disebabkan karena adanya perbedaan dalam menggunakan istilah sunni secara akademik dan politik. Terlepas dari perbedaan tentang pengertian Sunnah tadi terdapat persamaan bahwa Sunnah adalah kebiasaan Nabi baik berupa praktek ibadah maupaun praktek kehidupan Rasulullah sebagai makhluk sosial yang butuh berinteraksi dengan alam, manusia dan Tuhannya. Dalam perkembangan Islam Sunni dapat dipandang dengan dua perspektif yaitu Sunni sebagai pemikiran aliran dan Sunni sebagai sejarah politik. Pertama, Sunni sebagai pemikiran aliran yakni Sunni dalam dataran akademis tidak dibatasi oleh madzhab seperti pembatasan hanya ada dua imam dalam theologi (Asy’ariyah Dan Al-Maturidiyah), dua imam dalam bidang tasawuf (Al-Ghazali dan Junaidi), dan empat imam fiqh (Hanafi, Maliki, Syafi’i, dan Hambali).

Dua definisi ini menggambarkan adanya definisi yang bersifat terminologis (ishthilâhiy) dan definisi yang bersifat substantif. Ini artinya, dalam istilah Ahlussunnah wal Jama’ah ada aspek jawhar atau hakekat dan ada aspek ‘ardl atau formal. Dalam dua aspek ini, apa yang mendasar adalah aspek jawhar-nya, sedangkan aspek ‘ardl-nya dapat mengalami revitalisasi dan pembaruan, karena terkait dengan faktor historis.

Seperti diketahui, istilah Ahlussunnah wal Jama’ah muncul berkaitan dengan hadirnya mazhab-mazhab, sehingga ketika hasil pemikiran mazhab yang bersifat relatif, atau tidak absolut itu mengalami revitalisasi, maka pengertian Ahlussunnah wal Jama’ah pun harus dikembalikan kepada arti substansinya.

Pengertian substansi Ahlussunnah wal Jama’ah dalam konteks akidah adalah paham yang membendung paham akidah Syi’ah (dalam konteks historis juga paham akidah Mu’tazilah) yang dinilai sebagai kelompok bid’ah, yakni kelompok yang melakukan penyimpangan dalam agama karena lebih mengutamakan akal dari pada naql (Qur’an) dalam merumuskan paham keagamaan Islamnya.

Dengan demikian, pengertian Ahlussunnah wal Jama’ah secara substantif adalah kelompok yang setia terhadap sunnah, dengan menggunakan manhaj berpikir mendahulukan nashsh daripada akal. Sebagai gerakan, sebelum diinstitusikan dalam bentuk mazhab, kelompok ini melakukan pembaruan paham keagamaan Islam agar sesuai dengan Sunnah atau ajaran murni Islam (purifikasi), sehingga orang Barat menyebut Ahlussunnah wal Jama’ah dengan orthodox sunni school. Di antara kelompok yang berhasil melakukan pembaharuan seperti ini adalah pengikut Imam al-Asy’ari (Asy’ariyah).

Dua Konsep Sunni Yang Patut Menjadi Referensi Pergerakan

a. Konsep Maslahat
Pemikiran sunni yang pada awalnya adalah respon terhadap kondisi umat islam yang chaos memang cenderung konservatif, dekat dengan penguasa dan terkesan tidak memberikan ruang yang lebih luas kepada rakyat untuk menyalurkan kepentingannya. Pemikiran Sunni seperti Ibnu Taimiyah, Al-Ghazali dan Al- Mawardi cenderung memberikan celah bagi terbentuknya kekuasaan yang otoriter. Ada beberapa pemikiran dasar Sunni yang sebenarnya menjadi embrio politik ekonomi yang memihak pada kepentingan rakyat diantaranya adalah konsep amanah, adil dan maslahat. Pertama, konsep maslahat. Bagi pemikir Sunni salah satu tujuan sebuah kekuasaan menurut pemikir Sunni adalah untuk mensejahtarakan rakyat. Dalam hal ini ada sebuah kaidah yang mengatakan stasharruful imam ‘ala al-ra’iyah manuthun bil maslahah (semua kebijakan pemimpin harus didasari pertimbangan kemaslahatan umat). Kaitannya dengan upaya membangun Visi kerakyatan fiqih, konsep maslahat setidaknya memberikan tiga kontribusi : pertama, menjaga keberpihakan pada kepentingan umum. Kedua, mengontrol kelompok yang mempunyai otoritas politik, ekonomi maupun intelektual dalam membuat kebijakan publik agar tidak didominasi oleh kepentingan individu atau golongan. Ketiga, menyelaraskan kepentingan syari’at dengan kepentingan manusia sebagai makhluk yang mempunyai kebutuhan dunia.

b. Konsep Amanah
Terkait dengan konsep amanah ada dua pemikiran Sunni yang pemikirannya telah populer pada saat ini, Imam Ghazali, Ibnu Taimiyah dan al- Mawardi. Mereka sepakat bahwa terbentuknya sebuah negara selain untuk menjamin terpeliharanya syariat dalam kehidupan manusia juga untuk menciptakan kemaslahatan kehidupan dunia manusia. Pendapat kedua pemikiran tadi memang tidak seekstrim teori kontrak sosial dalam kamus politik konvensional meskipun demikian konsep amanah yang ditawarkan Ibnu Taimiyah dan Al-Ghazali tadi merupakan modal untuk membangun konstruksi fiqih dengan visi kerakyatan yang kuat.

Perkembangan Konsep Aswaja Di PMII
Dalam alur besar pemikiran Ahlussunnah Wal Jama’ah ada dua pemahaman yang selama ini sering diperdebatkan. Yang pertama Aswaja dipahami sebagai sebuah madzhab yang sudah baku dan transeden. Misalnya dalam fiqh disandarkan pada empat imam yaitu imam Syafi’i, Hanafi, Hambali, dan Maliki, dua imam teologi Maturidi dan Imam Asy’ari dan dua imam tasawuf yaitu Imam Al- Junaidi dan Imam Ghazali.
Konsep yang kedua memandang Aswaja sebagai metodologi berfikir (manhaj). Konsep Aswaja sebgai manhaj fikr lebih adaptif, eklektik dan mengakui pemikiran yang filosofis dan sosiologis. Pemahaman Aswaja tersebut dipopulerkan para kiai muda seperti Abdurrahman Wahid, Said Aqil Siraj dan tokoh-tokoh muda lainnya. Dalam sejarah PMII, kata independen bisa disebut kata suci. Bagi organisasi kemahasiswaan ini, perdebatan tentang independensi organisasi mempunyai sejarah paling panjang dan tidak habis-habisnya melahirkan kontroversi. Karena persoalan independensi itulah, melalui Mubes di Murnajati (Jatim) 14 juli 1971 PMII menyatakan diri putus hubungan dengan NU (organisasi yang pada awalnya menjadi induk PMII) secara struktural (baca deklarasi Murnajati). Meskipun demikian dilihat dari pola pikirnya dan landasan teologinya, ada kesamaan antara PMII dan NU, keduanya mencoba menjadi pengawal gerbang ajaran Ahlussunnah Wal Jama’ah. Hanya hanya saja PMII lebih mengembangkan Aswaja sebagai Ideologi elektik dan adaptif demi terwujudnya Islam rahmatan lil ‘alamin. Sebagaian besar kader PMII yang lahir dari kalangan pesantren masih memegang hirarki yudisial dalam sistem bermadzhab meskipun terkesan liberal dalam berfikir. Meskipun demikian penggunaan metodologi keilmuan seperti filsafat, sosiologi, linguistik, tidak bisa dipungkiri sangat dibutuhkan untuk menterjemahkan sumber hukum tersebut dalam konteks kekinian. Dengan pola pikir seperti itu, tokoh seperti KH. Said Aqiel, Gus Dur dan juga Ulil Abshar sering menjadi referensi bagi kader-kader PMII. Dalam perkembangan pemikiran selanjutnya, dalam konteks sosial keagamaan Aswaja diterjemahkan sebagai manhaj yang mengakui proses dialektika sejarah pemikiran dan pergerakan. Konsepsi Aswaja yang mengakui pemikiran yang filosofis yang sosiologis. Hal tersebut tentunya tidak lepas dari hasil perjuangan para kyai muda seperti Said Aqiel Siraj. Ia menawarkan definisi baru mengenai Aswaja sebagai manhaj. Secara sempurna definisi Aswaja menurutnya adalah; “ Manhaj Al-fikr Al-Diny al Syiml ‘Ala Syu’un Al Hayat wa Mu’tadlayatiha Al Khaim Ala Asas Al Tawasuh Wal Tawazzun Wal Al i’tidal Wa Al Tasamuh (metode berfikir keagamaan yang mencakup segala aspek kehidupan dan berdiri di atas prinsip keseimbangan, balancing, jalan tengah dan netral dalam aqidah penengah dalam permasalahan kehidupan sosial kemasyarakatan serta keadilan dan toleransi dalam politik). Dari paparan diatas sekiranya dapat diambil kesimpulan bahwa, PMII lebih condong untuk memakai Aswaja sebagai Manhaj Al-Fikr dari pada sebagai madzhab. Said Aqil Siraj mengatakan bahwa aswaja akan menjadi paradoks ketika Aswaja hanya dipahami sebagai madzhab. Karena hal ini bertentangan dengan fakta sejarah kelahiran Aswaja itu sendiri. Aswaja adalah paham inklusif bagi seluruh umat islam. Bukan milik organisasi atau institusi tertentu.

Makalah Akidah Islam tentang Allah


BAB I
PENDAHULUAN


Iman kepada Allah termasuk rukun iman yang pertama dan yang paling pokok di zaman modern sekarang banyak bermunculan tentang aliran-aliran yang menyesatkan.
Karena banyaknya manusia-manusia zaman sekarang yang lupa akan tuhannya. Kata-kata iman hanya dibibir saja. Iman itu diyakini di dalam hati, diucapkan pada lisan dan di lakukan dengan perbuatan maka dari itu dalam pembahasan ini akan menguak tetang adanya Allah dengan segala pembuktiannya sekaligus sifat-sifatnya.


BAB II
PEMBAHASAN

A.    Beriman Kepada Allah
Pokok dari segala pokok aqidah adalah beriman kepada Allah SWT yang berpusat pada pengakuan terhadap eksistensi dan kemahaesaan-Nya.
Pengakuan terhadap kemahaesaan dalam segala-galanya dan zat-Nya, artinya tidak ada persamaannya dalam seluruh zat yang kita kenal dalam ilmu fisika. Dia maha esa dan sifat-sifatnya. Dia maha esa dalam wujud-Nya artinya hanya Allah sajalah yang wajibul wujud. Sedangkan yang lainnya hanya mumkinul wujud.
Oleh karena itu, kalimat pengakuan islam adalah La Ilaha Ilallah (tidak ada tuhan selain Allah).
ö@è% uqèd ª!$# îymr& ÇÊÈ   ª!$# ßyJ¢Á9$# ÇËÈ   öNs9 ô$Î#tƒ öNs9ur ôs9qムÇÌÈ   öNs9ur `ä3tƒ ¼ã&©! #·qàÿà2 7ymr& ÇÍÈ  
Artinya: "Katakanlah: "Dia-lah Allah, yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan, Dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia." (QS. Al-Ikhlas: 1-4)

B.     Metode Pembuktian Adanya Allah
Untuk membuktikan adanya Allah, al-Qur'an menunjukkan suatu metode, yakni dengan menyelidiki hakikat kejadian manusia dan alam sekitar. (QS. Ali Imran(3): 190- 191, QS. Al-A'raf(7): 185, QS. Al-Anbiya'(21): 22, dan masih banyak lagi ayat lainnya).
Dalam membuktikan wujud Allah, Ibn Rusyd, seorang filosof muslim, memberikan 2 cara:
Pertama, dalil al-Inayah intinya bahwa sesungguhnya kesempurnaan struktur susunan alam semesta ini menunjukkan adanya suatu tujuan tertentu pada alam.
Alam adalah natijah dari hikmah ketuhanan yang sangat mendalam.
Kedua, dalil ikthira' intinya bahwa yang ada (maujud) yang kita lihat adalah makhluk (dijadikan) terutama pada makhluk hidup, manusia sangat lemah untuk menciptakan walaupun hanya seekor binatang kecil.
Dari penjelasan ini dapat menarik kesimpulan tentang bukti-bukti adanya Allah SWT.
1.      Karena hakikat manusia itu adalah makhluk bertuhan
Pada hakikatnya, manusia membutuhkan dzat yang maha kuasa sebagai tempat berlindung.
2.      Adanya bukti dari ayat-ayat al-Qur'an
Di dalam al-Qur'an banyak dijumpai ayat-ayat yang menyebutkan keberadaan Allah.
3.      Terjadinya alam semesta
Keberadaan alam semesta ini membuktikan bagi orang-orang yang mempunyai akal sehat tentang adanya Tuhan yang telah menciptakan semuanya.
4.      Adanya kejadian manusia
Manusia dengan segala kelebihan dan keunikannya, tidak mungkin ada dengan sendirinya tanpa ada yang menciptakannya. Manusia diciptakan Allah dari bahan yang sederhana dan rendah nilainya, yakni unsur tanah.
5.      Adanya kitab al-Qur'an
Al-Qur'an sejak diturunkan kepada Nabi muhammad SAW tidak ada yang mampu menandinginya, baik dari segi sastra, bahasa, apalagi isi kadungannya.
Ini membuktikan bahwa ada dzat yang maha besar dan maha sempurna yang telah mewahyukan al-Qur'an.
Lima landasan pokok tersebut mampu membuktikan bahwa Allah itu benar-benar wujud (ada).
Selain dalil-dalil yang membuktikan adanya Allah ada juga dalil-dalil yang lain yaitu:
1.      Dalil kosmologis
Dalil kosmologis (cosmogical argument) atau dalil penciptaan merupakan pembuktian paling tua dan sederhana tentang eksistensi Allah.
Intinya adalah bahwa segala sesuatu yang ada (wujud) itu pasti ada yang menciptakan sebab seluruh kejadian dan perwujudan yang ada di alam semesta ini, selamanya, bergantung pada adanya peruwujudan yang lain.
2.      Dalil teologis
Dalil ini merupakan dalil yang amat populer, dan ini merupakan penerapan dalil kosmologis dalam bentuknya yang lain.
Intinya dalil ini adalah bahwa segala perwujudan tersusun dalam sistem yang amat teratur, dan setiap benda yang ada di alam semesta ini memiliki tujuan-tujuan tertentu.
3.      Dalil ontologis
Dalil ini untuk pertama kalinya dikemukakan oleh Anselm (1033-1109) yang kemudian dipertajam oleh Descartes pada permulaan abad modern ini. Intinya adalah bahwa manusia memiliki konsep tentang sesuatu yang sempurna.
Ketiga macam dalil tersebut, disebut sebagai dalil klasik yang kini jarang dipergunakan orang, terutama di kalangan kaum terpelajar.
4.      Dalil moral
Inti dalil ini adalah bahwa dikalangan umat manusia di dunia ini berlaku nilai-nilai moral, seperti kebenaran, kebahagiaan dan keadilan.

C.    Sifat-Sifat Allah
Disamping sifat maha esa, al-Qur'an juga menyebutkan sifat-sifat lain, semisal ar-Rahman (maha pengasih), ar-Rahim (maha mengetahui), as-Sami' (maha mendengar), al-Alim (maha mengetahui).
Para ulama menyimpulkan sifat-sifat Allah dalam al-Qur'an ada 20 kemudian di sederhanakan menjadi 13 kemudian diringkas pula menjadi 1 yakni sifat maha sempurna (al-Kamal).
Sifat-sifat Allah terbagi menjadi sifat wajib, sifat mustahil, dan sifat jaiz.
1.      Sifat wajib Allah
Adalah sifat yang harus ada pada dzat Allah sebagai kesempurnaan bagi-Nya.
Maka sifat Allah wajib diyakini dengan akal (aqli) berdasarkan al-Qur'an dan sunnah Rasul (wajib naqli).
a.       Wajib (الوجود) artinya ada.
Maksudnya adanya Allah itu bukan karena ada yang menciptakan, tetapi karena ada dengan sendirinya.
b.      Qidam (القدام) artinya dahulu
Maksudnya bahwa Allah terdahulu tanpa didahului oleh sesuatu
c.       Baqa' (البقاء) artinya kekal
Maksudnya Allah itu kekal tidak berubah-ubah sebagaimana makhluk-Nya. Yang selalu mengalami proses perubahan dan kehancuran.
d.      Mukhalafatu lil hawaditsi (المخالفة للحواث) artinya berbeda dengan semua makhluknya.
Maksudnya Allah berbeda dengan semua makhluknya. Dzat maupun sifat-sifat Allah itu berbeda dengan sifat-sifat makhluk-Nya.
e.       Qiyamuhu binafsihi (القيامة بنفسه) artinya berdiri sendiri tanpa memerlukan yang lain
Maksudnya adalah Allah tidak membutuhkan bantuan apapun dan siapapun.
f.       Wahdaniyah (الوحدايسة) artinya maha esa (tunggal)
Maksudnya adalah Allah itu hanya satu-satunya (tunggal). Kalau Allah itu ada 2 maka akan timbul kehancuran alam semesta ini.
g.      Qudrat (القدرة) artinya maha kuasa
Maksudnya Allah itu kuasa atas segalanya kekuasaan Allah itu tidak ada yang menyamainya.
h.      Iradat (الارادة) artinya maha berkehendak
Maksudnya bahwa Allah bebas berkehendak atau kemauan-Nya tanpa ada yang memerintahkan dan menghalangi-Nya.
i.        Ilmu (العلم) artinya mengetahui
Maksudnya adalah Allah itu maha mengetahui atas segala sesuatu. Ilmu Alah itu bersifat lengkap, menyeluruh, luas dan mendalam.
j.        Hayat (الحياة) artinya hidup
Maksudnya adalah Allah itu maha hidup, ia hidup sebagaimana ia. Tanpa didahului oleh tidak ada atau tidak hidup, dan hidunya Allah itu tidak berkesudahan.
k.      Sama' (السمع) artinya mendengar
Maksudnya adalah Allah itu maha mendengar, baik yang nyaring, samar, bahkan yang tidak terdengar sama sekali oleh telinga manusia.
l.        Bashar (البصر) artinya melihat
Maksudnya adalah Allah maha melihat segala sesuatu yang kecil maupun yang tersembunyi, tanpa bantuan alat penglihatan.
m.    Kalam (الكلام) artinya berkata-kata atau berfirman
Maksudnya Allah itu tidak bisu karena bisu adalah sifat kekurangan. Allah berkomunikasi dengan hamba yang dikehendaki-Nya.
n.      Qadiran artinya maha kuasa
Maksudnya bahwa Allah adalah dzat yang maha kuasa atas segala sesuatu
o.      Muridan artinya maha berkehendak
Maksudnya bahwa Allah adalah dzat yang maha berkehendak atas segala sesuatu
p.      Aliman artinya maha mengetahui
Maksudnya bahwa Allah adalah dzat yang maha mengetahui atas segala sesuatu
q.      Hayyan artinya maha hidup
Sesungguhnya Allah adalah dzat yang maha hidup, hidup selamanya dan tidak akan mati.
r.        Sami'an artinya maha mendengar.
Sesungguhnya Allah adalah dzat yang maha mendengar atas segala sesuatu.
s.       Bashiran artinya maha melihat
Sesungguhnya Allah adalah dzat yang maha melihat atas segala sesuatu
t.        Muttakaliman artinya maha berkata-kata
Sesungguhnya Allah adalah dzat yang maha berkata-kata atau berfirman

Selain wajib bagi Allah tersebut dapat dibagi menjadi 4 bagian:
  1. Sifat nafsiyah ialah sifat yang berhubungan dengan diri dzat Allah SWT. Adapun yang termasuk pada kelompok sifat nafsiyah adalah wujuudu.
  2. Sifat salbiyah ialah sifat Allah yang menolak atau menafikan sifat-sifat yang sesuai atau tidak layak bagi Allah SWT.
Sifat-sifat tersebut adalah: al-Qidamu menafikan al-Hudutsu, al-Baqa'u menafikan al-Fana'u, al-Mukhalafatu lil hawaditsi menafikan al-Mumaat-salatu lilhawaditsi, al-Qiyamu binafsihi menafikan al-Ihtiyajuu ilaa qhairihi, dan al-Wahdaaniyatu menafikan at-Ta'addudu.
  1. Sifat ma'ani ialah sifat yang memastikan bahwa yang disifati itu memiliki sifat tersebut. Yang termasuk sifat ma'ani ialah: al-Qudratu, al-Iraadatu, al-Ilmu, al-Hatu, as-Sami'u, al-Basharu, Al-Kalamu.
  2. Adapun sifat ma'nawiyyah ialah sifat yang berhubungan dengan sifat ma'ani atau sebagai kelanjutan dari ke-7 sifat ma'ani yaitu: Kaunuhu qaadiran, Kaunuhu murridan, Kaunuhu 'aaliman, Kaunuhu hayyan, Kaunuhu samiian, Kaunuhu bashiran, Kaunuhu mutakkaliman.
2.      Sifat Mustahil Allah
Adalah sifat yang tidak mungkin ada pada Allah. Sifat ini merupakan kebalikan dari sifat wajib Allah.
a.       Adam artinya tidak ada
b.      Huduts artinya baharu atau permulaan
c.       Fana' artinya rusak
d.      Mumatsalatu ulhawaditsi artinya menyerupai yang baru atau makhluk
e.       Ihtiyaju li ghairihi artinya membutuhkan sesuatu selain dirinya
f.       Ta'adud artinya berbilang atau lebih dari 1
g.      Ajzun artinya lemah
h.      Karahah artinya terpaksa
i.        Jahlun artinya bodoh
j.        Maut artinya mati
k.      Shamamun artinya tuli
l.        Umyun artinya buta
m.    Bukmun artinya bisu
n.      Ajizan artinya maha lemah
o.      Mukrahan artinya maha terpaksa
p.      Jahilan artinya maha bodoh
q.      Mayyitan artinya maha mati
r.        Ashamma artinya maha tuli
s.       A'ma artinya maha buta
t.        Abkama artinya maha bisu
3.      Sifat jaiz Allah
Secara bahasa jaiz berarti boleh.
Sifat jaiz Allahh adalah sifat yang boleh ada dan boleh tidak ada pada Allah.
Sifat jaiz Allah adalah fi'lu kulli mumkinin au tarkuhu artinya memperbuat sesuatu yang mungkin terjadi atau tidak memperbuatnya.

D.    Asmaul Khusna (nama-nama Allah yang Baik)
Asmaul khusna adalah nama-nama Allah yang baik atau indah. Nama-nama ini dijadikan jalan untuk bermakrifat kepada Allah. Dengan cara memahami baik-baik nama-nama itu. Adapun jumlah nama-nama tersebut berjumlah 99 nama yaitu sebagai berikut:
1.      Ar-Rahman Artinya Yang Maha Pemurah
2.      Ar-Rahim Artinya Yang Maha Mengasihi
3.      Al-Malik Artinya Yang Maha Menguasai / Maharaja Teragung
4.      Al-Quddus Artinya Yang Maha Suci
5.      Al-Salam Artinya Yang Maha Selamat Sejahtera
6.      Al-Mu'min Artinya Yang Maha Melimpahkan Keamanan
7.      Al-Muhaimin Artinya Yang Maha Pengawal serta Pengawas
8.      Al-Aziz Artinya Yang Maha Berkuasa
9.      Al-Jabbar Artinya Yang Maha Kuat Yang Menundukkan Segalanya
10.  Al-Mutakabbir Artinya Yang Melengkapi Segala kebesaranNya
11.  Al-Khaliq Artinya Yang Maha Pencipta
12.  Al-Bari Artinya Yang Maha Menjadikan
13.  Al-Musawwir Artinya Yang Maha Pembentuk
14.  Al-Ghaffar Artinya Yang Maha Pengampun
15.  Al-Qahhar Artinya Yang Maha Perkasa
16.  Al-Wahhab Artinya Yang Maha Penganugerah
17.  Al-Razzaq  Artinya Yang Maha Pemberi Rezeki
18.  Al-Fattah Artinya Yang Maha Pembuka
19.  Al-'Alim Artinya Yang Maha Mengetahui
20.  Al-Qabidh Artinya Yang Maha Pengekang
21.  Al-Basit Artinya Yang Maha Melimpah Nikmat
22.  Al-Khafidh Artinya Yang Maha Perendah / Pengurang
23.  Ar-Rafi' Artinya Yang Maha Peninggi
24.  Al-Mu'izz Artinya Yang Maha Menghormati / Memuliakan
25.  Al-Muzill Artinya Yang Maha Menghina
26.  As-Sami' Artinya Yang Maha Mendengar
27.  Al-Basir Artinya Yang Maha Melihat
28.  Al-Hakam Artinya Yang Maha Mengadili
29.  Al-'Adl Artinya Yang Maha Adil
30.  Al-Latif Artinya Yang Maha Lembut serta Halus
31.  Al-Khabir Artinya Yang Maha Mengetahui
32.  Al-Halim Artinya Yang Maha Penyabar
33.  Al-'Azim Artinya Yang Maha Agung
34.  Al-Ghafur Artinya Yang Maha Pengampun
35.  Asy-Syakur Artinya Yang Maha Bersyukur
36.  Al-'Aliy Artinya Yang Maha Tinggi serta Mulia
37.  Al-Kabir Artinya Yang Maha Besar
38.  Al-Hafiz Artinya Yang Maha Memelihara
39.  Al-Muqit Artinya Yang Maha Menjaga
40.  Al-Hasib Artinya Yang Maha Penghitung
41.  Al-Jalil Artinya Yang Maha Besar serta Mulia
42.  Al-Karim Artinya Yang Maha Pemurah
43.  Ar-Raqib Artinya Yang Maha Waspada
44.  Al-Mujib Artinya Yang Maha Pengkabul
45.  Al-Wasi' Artinya Yang Maha Luas
46.  Al-Hakim Artinya Yang Maha Bijaksana
47.  Al-Wadud Artinya Yang Maha Penyayang
48.  Al-Majid Artinya Yang Maha Mulia
49.  Al-Ba'ith Artinya Yang Maha Membangkitkan Semula
50.  Asy-Syahid Artinya Yang Maha Menyaksikan
51.  Al-Haqq Artinya Yang Maha Benar
52.  Al-Wakil Artinya Yang Maha Pentadbir
53.  Al-Qawiy  Artinya Yang Maha Kuat
54.  Al-Matin  Artinya Yang Maha Teguh
55.  Al-Waliy  Artinya Yang Maha Melindungi
56.  Al-Hamid  Artinya Yang Maha Terpuji
57.  Al-Muhsi  Artinya Yang Maha Penghitung
58.  Al-Mubdi  Artinya Yang Maha Pencipta dari Asal
59.  Al-Mu'id Artinya Yang Maha Mengembali dan Memulihkan
60.  Al-Muhyi Artinya Yang Maha Menghidupkan
61.  Al-Mumit Artinya Yang Mematikan
62.  Al-Hayy Artinya Yang Senantiasa Hidup
63.  Al-Qayyum Artinya Yang Hidup serta Berdiri Sendiri
64.  Al-Wajid Artinya Yang Maha Penemu
65.  Al-Majid Artinya Yang Maha Mulia
66.  Al-Wahid Artinya Yang Maha Esa
67.  Al-Ahad Artinya Yang Tunggal
68.  As-Samad Artinya Yang Menjadi Tumpuan
69.  Al-Qadir Artinya Yang Maha Berupaya
70.  Al-Muqtadir Artinya Yang Maha Berkuasa
71.  Al-Muqaddim Artinya Yang Maha Menyegera
72.  Al-Mu'akhkhir Artinya Yang Maha Penangguh
73.  Al-Awwal Artinya Yang Pertama
74.  Al-Akhir Artinya Yang Akhir
75.  Az-Zahir Artinya Yang Zahir
76.  Al-Batin Artinya Yang Bati
77.  Al-Wali) Artinya Yang Wali / Yang Memerintah
78.  Al-Muta'ali Artinya Yang Maha Tinggi serta Mulia
79.  Al-Barr Artinya Yang banyak membuat kebajikan
80.  At-Tawwab Artinya Yang Menerima Taubat
81.  Al-Muntaqim Artinya Yang Menghukum Yang Bersalah
82.  Al-'Afuw Artinya Yang Maha Pengampun
83.  Ar-Ra'uf Artinya Yang Maha Pengasih serta Penyayang
84.  Malik-ul-Mulk Artinya Pemilik Kedaulatan Yang Kekal
85.  Dzul-Jalal-Wal-Ikram Artinya Yang Mempunyai Kebesaran dan Kemuliaan
86.  Al-Muqsit Artinya Yang Maha Saksama
87.  Al-Jami' Artinya Yang Maha Pengumpul
88.  Al-Ghaniy Artinya Yang Maha Kaya Dan Lengkap
89.  Al-Mughni Artinya Yang Maha Mengkayakan dan Memakmurkan
90.  Al-Mani' Artinya Yang Maha Pencegah
91.  Al-Darr Artinya Yang Mendatangkan Mudharat
92.  Al-Nafi' Artinya Yang Memberi Manfaat
93.  Al-Nur Artinya Cahaya
94.  Al-Hadi Artinya Yang Memimpin dan Memberi Pertunjuk
95.  Al-Badi' Artinya Yang Maha Pencipta Yang Tiada BandinganNya
96.  Al-Baqi Artinya Yang Maha Kekal
97.  Al-Warith Artinya Yang Maha Mewarisi
98.  Ar-Rasyid Artinya Yang Memimpin Kepada Kebenaran
99.  As-Sabur Artinya Yang Maha Penyabar/Sabar


BAB III
KESIMPULAN

Dari penjabatan ini dapat disimpulkan:
1.      Beriman Kepada Allah adalah percaya akan adanya Allah SWT
2.      Pokok dari segala aqidah Islam adalah beriman kepada Allah
3.      Untuk membuktikan adanya Allah, yaitu dengan menyelidiki hakikat kejadina manusia dan alam sekitar
4.      Pembuktian adanya Allah yaitu;
-          Hakikat manusia itu adalah makhluk bertuhan
-          Adanya bukti dari ayat-ayat al-Qur'an
-          Terjadinya alam semesta
-          Adanya kejadian manusia
-          Adanya kitab al-Qur'an
5.      Ada juga dalil-dalil lain yang membuktikan adanya Allah yaitu:
-          Dalil Kosmologi
-          Dalil Teologis
-          Dalil Ontologis
-          Dalil Moral
6.      Sifat-Sifat Allah dibagi atas
-          Sifat wajib Allah
-          Sifat jaiz Allah
-          Sifat mustahil Allah
7.      Asmaul khusna adalah nama-nama Allah yang baik atau indah.
DAFTAR PUSTAKA


Dr. Rosihan Anwar, Akidah Akhlak, Pustaka Setia, Bandung, 2008
www.google.com